Friday, January 15, 2016

moshi moshi Japan! (bagian III)

Day 8. Yamanashi. Gunung Fuji. 
Hari ini kami ke Gunung Fuji di Yamanashi. Kami naik kereta yang memang khusus ke sana. Keretanya-pun di cat ikon gunung yang tertawa. Sungguh khas Jepang. Perjalanan dari Tokyo ke Yamanashi kira - kira memakan waktu dua jam. 

 Kereta menuju Gunung Fuji.

Kami turun di Stasiun Kawaguchiko. Sengaja memilih turun di situ biar bisa keliling Danau Kawaguchi dengan bis dan kapal (satu paket). Dari danau, Gunung Fuji terlihat. Sayangnya siang itu mendung dan gerimis. Puncak Gunung Fuji tertutup awan. Banyak juga penginapan di sekitar stasiun untuk wisatawan yang ingin trekking sehingga punya waktu santai menikmati Gunung Fuji.

Selama di Jepang, kami beberapa merasakan gempa. Tapi gempa besar pertama yang kami rasakan saat kami makan siang di seberang Stasiun Kawaguchiko. Lampu - lampu restaurantnya bergoyang. Berada di Jepang dengan teknologi dan mitigasi canggih soal gempa, kami tidak khawatir. 

Kami memanfaatkan segala transportasi yang ada. Pertama - tama kami memutuskan keliling danau dengan bis. Kemudian kami turun di pelabuhan kecil, melanjutkan "pesiar" bolak balik danau dengan kapal. Sehabis itu, kami jalan kaki sedikit menuju cable car.

 Bis keliling Danau Kawaguchi.

Gunung Fuji yang mendung :(

Ketika kami di sana, cable car baru beroperasi sebulan. Everything's brand new. Kami naik cable car ke atas bukit untuk melihat pemandangan danau dari atas/ observation deck. Sebelum ada cable car, pengunjung harus trekking ke atas selama 45 menit. Beruntung kami bisa menikmati fasilitas ini. 


Danau Kawaguchi dari observation deck
 
Sesampainya di puncak, udara terasa lebih dingin. Angin makin kencang, namun untungnya gerimis sudah berhenti. Di atas, ada warung penjual makanan minuman. Makanannya adalah Fuji rice cake. Kami duduk – duduk sampai jam 5 sore menikmati pemandangan dan udara segar sambil makan dan minum.

 Jajjjjjjaaaaaaannn!

Day 9. Tokyo. Disney Sea. 
Horeeee ke Disneyland! Terakhir kali ke Disneyland tahun 2009 di Hong Kong. Kabarnya di Jepang jauh lebih seru, bikin penasaran. Tapi karena waktunya sempit, atas saran teman, kami hanya ke Disney Sea karena Disney Sea hanya ada di Jepang! Sementara Disneyland kurang lebih sama – sama saja. Mirip - mirip dengan HK, Disneyland Complex di Jepang berada di dekat pantai juga. Kami berangkat cukup pagi agar sampai sana tidak terlalu jauh waktunya dengan waktu gerbang dibuka.

 Bagian depan tampak sepi. Tapi jangan tertipu tampilan depan. 
 Bagian (agak ke dalam).

Kami memilih datang lumayan pagi di hari Rabu dengan harapan Disneyland tidak terlalu ramai. Ternyata salah! Hahaha. Teman saya yang tinggal di Tokyo aja kaget pas saya cerita Disneyland ramai banget hari itu. Wahana – wahananya banyak yang sedang maintenance. Wahana – wahana seru kayak Journey to The Center of The Earth dan House of Terror beroperasi tapi saya nggak bisa naik karena status bumil.

Secara tampilan, Disney Sea jauh lebih keren dari Disneyland. Setiap konsep tema benar – benar dipikirkan (dan tentu saja, dieksekusi dengan baik). Merchandise yang dijual di Disney Sea berbeda dengan Disneyland. Mereka menyesuaikan karakter yang ditampilkan di wahana - wahana.  

Atas: 20.000 league under the sea. 
Bawah: suasana ramai Disney Sea.

Walaupun nggak banyak naik wahana, saya pribadi tetap happy. Terjawab sudah penasaran akan Disney Sea dan nggak menyesal telah skip Disneyland. 

 Journey to the center of the earth.


 A child's dream came true: foto bareng Goofy! 
Sebelum istirahat sore dan pulang, wajib foto bareng karakter favorit jaman kecil, Goofy. Yeay! Ngantrinya lumayan lama dan rebutan sementara Goofy-nya udah mau buru - buru pergi ke spot foto yang lain. Akhirnya saya dapet giliran terakhir. Mungkin karena bumil dan muka capek jadi mereka kasian hehehe.

Day 10. Tokyo. Harajuku. 
Setelah menikmati kota Kyoto yang lebih “santai”, saya dan suami agak gegar budaya selama dua hari di Tokyo. Suasananya sangat berbeda. Semua serba cepat dan padat. Hari ini kami memutuskan jalan – jalan di taman di daerah Harajuku. Ada dua taman yang kami datangi. Pertama, taman/ hutan menuju Meiji Shrine. Kedua, Yoyogi Park. Kesan pertama masuk Meiji Shrine: majestic! Seharusnya memang begini taman/ hutan kota yang baik. Gerbang kayu tinggi menjulang, pohon – pohon besar sepanjang jalan, tenang dan nyaman.

 "Gerbang" masuknya. 
 Inside Meiji Shrine.

Kemudian kami duduk – duduk di Yoyogi Park yang katanya terkenal ramai saat weekends dan penuh Harajuku style people. Kami duduk – duduk memperhatikan beragam aktivitas pengunjung. Mewah. Di Jakarta kan susah banget cari taman yang enak buat bengong. Malamnya kami pergi ke daerah Roponggi dan mampir ke Tokyo City View di Roponggi Hills. Ternyata ada pameran Star Wars! Wow, bertahun – tahun suka Star Wars tapi saya belum pernah ke pameran Star Wars hahaha. Makanya pas di sana langsung girang. Sayangnya koleksi tidak boleh difoto. Mereka memajang kostum - kostum karakter utama dan karakter yang unik, komik - komik pertama Star Wars, lukisan - lukisan, aksesori yang dipakai oleh para karakter, dan replika battle scene di Star Wars menggunakan action figure. Di ujung pameran ada penjualan merchandise. Kami agak kalap belanja merchandise Star Wars dan buku pameran. Yaudahlah mending nyesel beli daripada nyesel nggak beli kan nyahahaha. 


Tokyo!
Seandainya masih ada waktu, sebenarnya saya masih mau keliling Ropongi Hills. Ada Mori Art Museum yang memajang instalasi seninya Yayoi Kusama. Pas lihat waktu, udah hampir jam22.30. Sebentar lagi tutup. Niat lihat Tokyo City View malah kehabisan waktu gara – gara pameran Star Wars (yang tidak disesali karena emang keren banget). Kami hanya menikmati 20 menit kota Tokyo dari atas sebelum gedungnya tutup.

Day 11. Tokyo. Asakusa dan teman lama. 
Kami memilih ke Asakusa naik bis dari Ikkebukuro karena ingin melihat kota Tokyo dari sisi yang berbeda. Tidak disangka naik bis ke Asakusa jauh hahaha. Kayaknya saya udah ketiduran 2x belum nyampe - nyampe juga. Dari pengalaman kami naik bis di Jepang, banyak kami temui orang tua. Namun sewaktu naik bis ke Asakusa inilah baru benar - benar kami sadar bahwa kebanyakan pengguna bis di Jepang itu orang tua (senior citizens). Selain itu, di Jepang memberi duduk untuk ibu hamil, perempuan dan orang tua memang dilakukan dengan tertib. Jika ada yang "cuek" duduk di seat tersebut sementara ada yang membutuhkan, biasanya ditegur oleh pengguna bis lain. Ini berlaku terutama di bis.

Senso-ji Temple.

Nakamise Shopping Street di depan Kuil Senso-ji. 

Sampai Asakusa, langit mendung. Kami jalan – jalan di seputar Asakusa sampai sore sebelum akhirnya hujan lebat. Setelah reda, kami berjalan ke stasiun menuju Shibuya. Saya ada janji temu dengan teman SMP yang sekarang tinggal di Jepang. Shibuya malam hari persis seperti yang digambarkan selama ini: penuh orang menyebrang dari berbagai arah, sinar – sinar lampu dan layar – layar besar. Saat itu kami janjian di pintu 8 Hachiko exit. Sekitar 15 menit kemudian, kami berkumpul. Teman saya mengajak tiga teman lainnya, orang Indonesia yang kuliah di Tokyo. Kami makan malam di restaurant pizza yang murah dan enak. Senang bisa ketemu orang – orang Indonesia dan ngobrol setelah berhari – hari dengar Bahasa Jepang dimana – mana dan berusaha ngomong Bahasa Inggris ke orang – orang yang Inggris-nya belepotan.

Day12. Kawasaki. Doraemoooooonnnnn! 
Museum Fujiko F. Fujio atau Museum Doraemon berlokasi di Kawasaki, Kanagawa Prefecture. Sekitar 2 jam dari Tokyo dengan kereta. Museumnya bagus, mirip playground anak – anak. Terus luas berlorong - lorong. Bawaannya pengen lari - larian. 

Museum Fujiko F. Fujio. Sumber foto: www.japan-guide.com 

Semua karakter ciptaan Fujiko F. Fujio dipamerkan di sini seperti Doraemon dan P-man. Ada pula film dan foto - foto dokumentasi beliau. Di bagian atas museum (rooftop) ada area terbuka untuk foto – foto dengan gorong – gorong tempat Nobita dan teman – temannya biasa bermain. Ada juga “pintu kemana saja” dan dinosaurus. Langsung jadi anak kecil lagi deh. Kami membeli banyak kartu pos. Saya pribadi memang koleksi kartu pos dari tempat - tempat yang saya kunjungi selama ini. Kami menahan diri untuk nggak belanja lebih banyak karena merchandise di sana minta dibeli semua.


Rooftop.
 Aku sayang sekali, Doraemooon. Sumber foto: www.thaiday.com

 Seandainya bisa ikutan naik dinosaurus. 
Kami ke bagian rooftop saat orang - orang masih sibuk makan siang hehehe, jadi kami lumayan bisa foto - foto dengan tenang. Selesai Museum Doraemon, lanjut ke daerah Daikanyama di Tokyo. Niatnya ke sana mau cari gendongan bayi di Aprica store. Ternyata, Daikanyama sangat menyenangkan sekali area-nya. Dari stasiun, kami jalan kaki melewati jalan – jalan kecil atau gank yang kanan kirinya penuh toko – toko mungil bernama Sarugaku Complex.

 Sarugaku Complex. Sumber foto: www.japanistas.com

Kebanyakan designer based products yang dijual. Mirip - mirip Goods Dept. tapi better standard and design. Lebih mahal juga harga - harganya. Terlihat daerah fancy, barang – barangnya edgy, banyak café lucu. Saya sih cuman liat – liat aja udah happy. Eh tetap belanja ding, dapat gendongan bayi di Aprica sambil berdoa semoga bayinya betah nanti digendong pake gendongan ini.

Day 13. Mitaka. Ghibli Museum.  
Ghibli Museum di Mitaka! "Naik haji" juga saya ke tempat ini, wooohoooo! Sengaja memilih mengunjungi Ghibli Museum sehari sebelum pulang biar ada klimaksnya. Halah. Sempet deg - degan nggak dapat tiket. Tiket Ghibli Museum hanya bisa dibeli di mesin tiket seven eleven Jepang setiap minggu pertama per tiga bulan atau minggu pertama tiap bulan. Riweh pisan. Infonya emang rada rancu antara di website mereka dengan info di tempat lain. 

Saya menitip teman di Jepang untuk membelikan tiket berdasarkan info yang rancu. Si teman ini sampai datang 2x ke seven eleven yang berbeda di minggu pertama dua bulan yang berbeda. Pertama kata staff sevel, tiketnya belum "dibuka" penjualannya. Diminta cek lagi bulan depan. Pas bulan depan, tiket sudah habis. Lah, bingungin banget. Mereka membatasi jumlah pengunjung tapi info-nya memang agak membingungkan. 

Teman langsung kasitau tiket Ghibli sudah habis. Saya nggak mau kecewa. Saya browsing - browsing dan nemu travel agent www.govoyagin.com. Mereka menjual tiket Ghibli untuk orang - orang yang sudah kehabisan tiket lewat mesin. Harganya emang jadi 5x lipat. Harga asli 110ribu per orang. Lewat mereka, saya kena charge 500ribu per orang. Ya gimana lagi, masa' udah sampai Jepang nggak ke Ghibli museum. Langsung deh say hello to credit card debt :P


 Laputan robot. 

Museum Ghibli luar biasa keren, melebihi bayangan dan ekspektasi saya. Wajar aja jika para pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto dan video di dalam ruangan karena ide - ide instalasinya out of the box semua. Kami terbengong - bengong dengan cara mereka menyajikan visual secara konvensional bergaya steam punk namun tetap imut. Bangunan museum dibuat sedemikan rupa agar tidak banyak sudut tajam dan bentuk kotak. Masuk ke dalam museum berasa masuk ke film - filmnya Miyazaki.
Pintu masuknya :) Sumber foto: www.jpninfo.com
Bagian dalam museum. Inspirasi Kiki's Delivery Service. Sumber foto: www.jpninfo.com
Contoh instalasi. Cute

Museum dibagi sesuai dengan tema. Instalasi sesuai foto di atas ini berada di lantai bawah. Isinya memang instalasi karakter dengan mesin, permainan perspektif, stop motion tradisional. Sementara itu di lantai dua, dibuat kamar - kamar berdasarkan film - film Miyazaki seperti Kiki's Delivery Service, Porco Rosso, dan Spirited Away. Kamar - kamar ini berisi benda - benda yang menginspirasi film - film tersebut. Semacam mood board tapi satu ruangan penuh.

Layanan museum sangat bersahabat serta cepat tanggap. Badan saya lemas karena udara panas di luar. Suami saya bertanya ke pegawai museum apakah ada ruang untuk beristirahat. Mereka mempersilakan saya tidur di ruang tidur tamu mungil yang ada di dalam. Apalagi begitu tau saya sedang hamil. Saya ditanya mau minum apa, butuh apa. Pegawai - pegawainya ramah dan kooperatif. Saya tidur - tiduran menghilangkan lemas. Kira - kira 40 menit, kami pamit mengucapkan terima kasih, jalan - jalan di museum sebentar dan ke toko merchandise. Saya tidak berkeberatan jika harus mengulang kunjungan ini lagi.

Day 14. Odaiba. Life-size Gundam. 
Atas saran teman, kami pergi ke Odaiba yang ada life-size Gundam. Odaiba tempatnya sepi dan jauh dari mana – mana. Kami menelusuri Odaiba yang hari itu sejuk namun matahari bersinar terik. Nggak ada yang banyak bisa dilihat di sana. Tapi kalau penggemar Gundam wajib datang ke sini sih. Karena selain ada life-size Gundam, ada Gundam café juga. 
Nggak original sih, tapi lumayan lah buat objek foto :P

Life size Gundam. Nggak cuman dipajang aja loh. Di jam tertentu dia menyala dan bergerak. 

Kami pulang ke apartemen kami di daerah Ikkebukuro. Packing dan siap – siap ke bandara. Kami terbang lewat Bandara Haneda. Di luar dugaan, ternyata Bandara Haneda bagus dan super nyaman. Sebagai bandara nomer dua di Tokyo, kami tadinya nggak ekspektasi banyak. 

Overall liburan kami sukses dan membahagiakan! Dan tentu saja, bikin pengen liburan ke Jepang lagi. Pengalaman pertama Jepang kami sepenuhnya typical itinerary turis. Banyak banget kota yang bisa didatangi, attractions yang bisa dikunjungi. Pemerintah di sana membuat setiap daerah memiliki ke-khas-an masing - masing. Kalau perlu festival masing - masing untuk menarik wisatawan. Setiap musim dibuat festival besar. Itu sebabnya wisata ke Jepang all year season. Jepang sangat nyaman mulai dari kota sampai ke daerah terpencil. Urusan mahal, bisa diatur lah. Pilihan transportasi, penginapan dan makanan banyak. Tinggal kondisi seperti apa yang kita inginkan. 
Sayonara (for now) Jepang!

Ke Jepang nggak cukup satu kali. Idealnya stay di sana 1 atau 1.5 bulan biar puas (kemudian miskin berjamaah). Bahkan kota Tokyo nggak cukup di explore hanya seminggu. Belum lagi wisata daerah – daerah di ujung Jepang yang dekat laut atau pegunungan. Waktu saya beli tiket Ghibli di voyagin, orangnya nanya saya mau ngapain aja di Tokyo. Mereka bisa menyarankan 500 macam aktivitas, only in Tokyo alone! Wow!  Next time balik ke Jepang, kami berniat explore kota – kota atau desa – desa kecil di sana. 

Thursday, January 14, 2016

moshi moshi Japan! (bagian II)

Day 4. Kyoto. Arashiyama dan sekitarnya.
Niat jalan ke Arashiyama pagi – pagi gagal! Apartemennya terlalu nyaman, bangunnya kesiangan. Pasrah aja deh nggak dapet foto Arashiyama yang bagus. Kami sampai di sana jam10 dan orang – orang udah rame banget. Semuanya mau foto di hutan bambu. Jadilah jalan tersendat – sendat nungguin orang lagi foto sepanjang hutan. Belum lagi ada pemotretan. Tapi, overall, worth it karena tempatnya indah.
 
Arashiyama Bamboo Forest 

Penasaran sama tempat ini. Siangnya balik lagi dan berfoto.

Pemberhentian ke-dua kami adalah Villa Okochi-Sanso. Villa dan taman ini milik aktor Jepang terkenal Okochi Denjiro (1896 – 1962) tak jauh dari hutan bambu. Villa dan taman Okochi-Sanso sekarang masuk dalam list heritage UNESCO. Foto di bawah adalah bagian depan villa yang menghadap kota dan sungai.

Villa Okochi-Sanso.

Di depan menghadap sungai, di belakang menghadap gunung. Zen-nya luar biasa. Saya berpikir Okochi-Sanso pasti tampak lebih indah pada musim gugur. Pohon - pohon yang berbeda akan berubah daunnya dengan warna yang berbeda pula.
 Pemandangan dari "bale bengong" bukit Okochi-Sanso.

 Saya yakin taman ini lebih indah di musim gugur. 

Mengelilingi villa dan taman membutuhkan waktu setidaknya 30 - 40 menit karena luas. Belum lagi jika kita duduk di titik - titik tertentu sambil menikmati pemandangan. Sehabis dari tempat ini kami kelaparan! Kami kembali ke jalan utama kemudian mengikuti sungai yang bisa ditelusuri dengan pedestrian zone di sampingnya. Sampailah kami di restaurant udon. Setelah makan siang, kami berjalan ke arah stasiun sambil melihat - lihat toko suvenir. Menurut saya, Jepang itu salah satu negara yang menjual makanan dan produk dalam kemasan unik, sehingga toko - toko suvenir selalu menarik untuk disinggahi walaupun tidak membeli apa - apa. Membeli es krim matcha lebih menarik buat saya. 

Kami kembali ke arah kota dengan kereta menuju Kyoto Imperial Palace. Udah jalan jauh ke dalam, ternyata kami nggak boleh masuk! Dari awal emang kurang niat ke sini sih, jadi nggak explore informasi lebih banyak. Untuk tour Kyoto Imperial Palace harus daftar dulu paling lambat satu hari sebelumnya karena dibatasi dan harus tercatat. It’s okay. Kami duduk – duduk di hutan sekitar palace yang adem.  

Next, Nishiki Market. Di sinilah hidup mulai rumit! Pasarnya bersih, rapi, semua ada, dan bisa nemu barang – barang berkualitas baik dengan harga rata – rata. Yang paling bikin ruwet, saya nemu toko craft super lengkap dan harganya murah. 

 Kain katun dan linen berbagai ukuran. 

Murah di sini jangan disamakan dengan murahnya Jakarta ya. Misalnya: dengan kualitas kain nomor satu, harganya mirip dengan kain kualitas medium di Pasar Baru atau Mayestik. Tapi yang terpenting motif – motif kain Jepang di sana nggak ada duanya dan nggak bisa ditemui di Jakarta. Karena nggak mau gegabah, saya memutuskan tidak membeli apa – apa (dulu) di sana. Hal lain yang saya suka, mereka menjual kain dalam potongan - potongan kecil, misalnya 50x50cm atau 75x75cm. Buat orang yang suka craft menguntungkan banget, nggak harus beli bahan kebanyakan.

Day 5. Fushimi Inari-Taisha. Oranye dan downtown Kyoto! 
Pertama kali “ngeh” kalau kuil ini ada waktu nonton Memoirs of Geisha jaman kuliah dulu. Adegan pertamanya Chiyo kecil berlari di sepanjang pilar – pilar oranye. Sebagai spot wajib kunjung turis, tempat ini juga nggak kalah ramai dari Arashiyama Bamboo Forest. 

 Turun stasiun langsung disambut gerbang oranye. 

Tapi seramai – ramainya tempat wisata di Jepang, segala sesuatu tetap teratur dan nyaman. Fushimi Inari-Taisha didedikasikan untuk dewa beras (God of Rice). Kuil ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan populer di antara pedangang dan pebisnis. Torii atau pilar – pilar oranye merupakan donasi dari para pebisnis sebagai ungkapan syukur kepada sang dewa. Kuil ini terpecah di beberapa lokasi. Salah satunya di atas gunung melewati jalan setapak. 

 Torii.

 Wishing pieces bermuka rubah (kitsune) karena rubah adalah penjaga kuil ini.

Lihat bagaimana orang di sana kreatif dalam menggambar kayu untuk menulis harapan. Sehabis dari Fushimi Inari-Taisha kami pulang ke apartemen untuk istirahat. Agak sore baru kami keluar lagi menuju downtown Kyoto lewat Shijo Street. Kali ini kami naik bis. Santai rasanya naik bis dibandingkan kereta dengan stasiun yang selalu crowded. Downtown Kyoto sungguh menyenangkan. Jalanan panjang, pedestrian zone yang lebar sehingga orang bisa jalan kaki dengan nyaman, kanan kiri pertokoan. Toko – tokonya juga menarik seperti Tokyu Hands dan Flying Tiger. 

 Downtown Kyoto.
  
Tapi sebelum menelusuri downtown Kyoto: sushi time! Karena lagi hamil dan nggak boleh makan yang mentah, moment makan sushi di Kyoto ini jadi syahdu banget buat saya karena sushi di Kyoto berbeda dengan sushi yang biasa dijual di Jakarta (edo-style). Di Kyoto tidak ada yang mentah, walaupun rasanya tetap mentah (eh gimana?!) Kyoto terletak jauh dari laut. Sehingga mereka harus pandai menyimpan ikan yang mereka punya. Salah satunya dengan cara dibuat acar. Jadi meskipun sudah ada proses diberi cuka dan disimpan, rasanya tetap tidak matang. Kyoto-style sushi lebih besar ukurannya dan dimakan tanpa soyu sauce. Rasanya? Juara! Saya makan di Izuju. Tepat berada di pojokan downtown Kyoto. Restaurantnya sendiri sudah dikelola selama tiga generasi atau 100 tahun lebih. 

Kyoto-style sushi. 

Puas makan sushi, kami jalan kaki dan mampir ke Gion, yaitu distrik Geisha yang paling terkenal. Berasa masuk ke mesin waktu deh. Sepanjang jalan bangunan tua dari kayu. Melihat pekerja restaurant naik sepeda pakai baju tradisional sambil memanggul boks kayu berisi ikan dengan satu tangan di pundak. Sayangnya karena temaram, sulit mengambil foto. 


 Gion District.

Sisa hari kami habiskan dengan berjalan kaki menyusuri downtown Kyoto. Masuk ke Tokyu Hands kemudian mupeng berat karena barang – barangnya bagus. Lalu nemu toko Flying Tiger yang ternyata merk dari Denmark. Lucu – lucu dan murah. Kami membeli oleh – oleh buat para keponakan di toko ini. 
 
Day 6. Kyoto. Ramen ayam juara! 
Hari ini kami bermalas – malasan di apartemen. Bangun siang. Suami nyuci baju. Saya leyeh leyeh. Kami baru keluar selepas makan siang dan kembali ke Nishiki Market nyahahaha. Kali ini saya beli beberapa potong kain dan benang rajut. Suami nemu cargo pants dan tas tentara murah yang bagus. Kali ini kami masuk Nishiki market dari sisi pasar yang menjual makanan. Seru abis! Ragam, warna dan jenis makanan di sana sangat instagram-able. Halah.

 Kalau udah sampai Nishiki, jangan lewatkan strolling bagian ini! Sumber foto: www.japanguide.com

Kira - kira begini contoh makanan "lucu" yang dijual. Dare to try?  Sumber foto: eatdrinktravelrepeat.com

Selain itu, selaku fans garis keras koyo Jepang, saya memborong koyo buat oleh – oleh sekaligus buat saya sendiri yang kayaknya cukup untuk persediaan 3 tahun. Dulu saya pernah dibelikan seorang teman koyo dari Jepang dan cocok! Setelah pakai koyo Jepang, saya malas pake koyo yang dijual di Indonesia. Koyo Jepang itu lembut, lengket di kulit tapi tidak sakit ketika ditarik, tidak membuat panas tapi efektif. Untung saya masih ingat warna dan gambar koyo tersebut. Tidak butuh waktu lama buat saya menemukannya di apotek. Sementara suami mau beli obat sakit kepala bingung. Tulisannya huruf kanji semua. Orang Jepang ditanya pake Bahasa Inggris nggak ngerti. 

Belum sah ke Jepang kalau belum makan ramen. Sebenarnya pilihan ramen banyak banget, di pinggir – pinggir jalan juga ada dan ramai (pertanda enak) tapi hampir semua non-halal. Hasil temuan browsing – browsing merekomendasikan kami ke sebuah chicken ramen di daerah Shimogyo-ku. 

 Chicken ramen dan chicken dumpling. Delish

Letaknya di dalam gang. Rasanya superb! Mereka memang hanya menjual ramen ayam. Ramen terenak yang pernah kami makan.

Day 7. Kyoto. Kiyomizu-dera dan Shinkansen. 
Hari terakhir kami di Kyoto sebelum melanjutkan liburan ke Tokyo. Kami mengunjungi salah satu kuil terbesar di Kyoto: Kiyomizu-dera. Karena letaknya yang tinggi, kota Kyoto bisa terlihat dari kuil. Pengunjung hari itu ramai termasuk anak – anak sekolah.

 Kota Kyoto dari atas.

 Berbaris tertib.

Bagian bawah kuil. 

Amazed lihat kayu - kayu penyangga kuil. Bayangkan jaman dulu mereka membuat semua itu tanpa bantuan alat - alat canggih seperti sekarang. Di jalan menuju Kiyomizu-dera, tanpa sengaja kami melewati toko merchandise Ghibli. Pengen kalap tapi bikin miskin dan koper mulai penuh. Akhirnya kami membeli beberapa poster kain dan kartu pos yang mudah dijejalkan di tas. 


 Die hard fans :P

Gerimis turun. Kami tidak berlama – lama di sana. Setelah mengambil foto di kuil, kami naik bis kembali ke apartemen untuk mengambil koper dan tas. Sambil menunggu kereta Shinkansen jurusan Tokyo datang, kami makan siang dulu di Katsukura, Stasiun Kyoto JR. Selama di Kyoto, Katsukura jadi restaurant favorit saya. Kami makan dua kali di dua hari yang berbeda. Menu-nya sederhana: tempura + nasi + miso soup + kol iris. Tapi rasanya enak banget! Nasi (barley rice), miso soup dan kol boleh tambah sesuka hati. Bahkan, suami saya yang biasanya kurang semangat ketemu miso soup, di Katsukura bisa makan 3 mangkok. Kenyang! Senang!

Katsukura! Kapan buka di Jakarta ya? 

Next, Shinkansen! Ke Jepang belum sah (juga) kalau belum naik kereta super cepat ini. Dari Kyoto ke Tokyo hanya memakan waktu 2 jam 40 menit. Jika naik kereta biasa dengan rute yang sama lamanya 9 jam. Walaupun kami menggunakan JR tickets, kami tidak bisa naik Shinkansen yang paling cepat (2 jam 20 menit). JR tickets hanya me-cover Shinkansen di bawah kecepatan itu. Secara fasilitas gerbong, tidak ada yang istimewa dari Shinkansen. Keunggulannya hanya efisien waktu.