Thursday, January 14, 2016

MOSHI MOSHI JAPAN! (BAGIAN II)

Day 4. Kyoto. Arashiyama dan sekitarnya.
Niat jalan ke Arashiyama pagi – pagi gagal! Apartemennya terlalu nyaman, bangunnya kesiangan. Pasrah aja deh nggak dapet foto Arashiyama yang bagus. Kami sampai di sana jam10 dan orang – orang udah rame banget. Semuanya mau foto di hutan bambu. Jadilah jalan tersendat – sendat nungguin orang lagi foto sepanjang hutan. Belum lagi ada pemotretan. Tapi, overall, worth it karena tempatnya indah.
Arashiyama Bamboo Forest 

Penasaran sama tempat ini. Siangnya balik lagi dan berfoto.

Pemberhentian ke-dua kami adalah Villa Okochi-Sanso. Villa dan taman ini milik aktor Jepang terkenal Okochi Denjiro (1896 – 1962) tak jauh dari hutan bambu. Villa dan taman Okochi-Sanso sekarang masuk dalam list heritage UNESCO. Foto di bawah adalah bagian depan villa yang menghadap kota dan sungai.

Villa Okochi-Sanso.

Di depan menghadap sungai, di belakang menghadap gunung. Zen-nya luar biasa. Saya berpikir Okochi-Sanso pasti tampak lebih indah pada musim gugur. Pohon - pohon yang berbeda akan berubah daunnya dengan warna yang berbeda pula.
 Pemandangan dari "bale bengong" bukit Okochi-Sanso.

 Saya yakin taman ini lebih indah di musim gugur. 

Mengelilingi villa dan taman membutuhkan waktu setidaknya 30 - 40 menit karena luas. Belum lagi jika kita duduk di titik - titik tertentu sambil menikmati pemandangan. Sehabis dari tempat ini kami kelaparan! Kami kembali ke jalan utama kemudian mengikuti sungai yang bisa ditelusuri dengan pedestrian zone di sampingnya. Sampailah kami di restaurant udon. Setelah makan siang, kami berjalan ke arah stasiun sambil melihat - lihat toko suvenir. Menurut saya, Jepang itu salah satu negara yang menjual makanan dan produk dalam kemasan unik, sehingga toko - toko suvenir selalu menarik untuk disinggahi walaupun tidak membeli apa - apa. Membeli es krim matcha lebih menarik buat saya. 

Kami kembali ke arah kota dengan kereta menuju Kyoto Imperial Palace. Udah jalan jauh ke dalam, ternyata kami nggak boleh masuk! Dari awal emang kurang niat ke sini sih, jadi nggak explore informasi lebih banyak. Untuk tour Kyoto Imperial Palace harus daftar dulu paling lambat satu hari sebelumnya karena dibatasi dan harus tercatat. It’s okay. Kami duduk – duduk di hutan sekitar palace yang adem.  

Next, Nishiki Market. Di sinilah hidup mulai rumit! Pasarnya bersih, rapi, semua ada, dan bisa nemu barang – barang berkualitas baik dengan harga rata – rata. Yang paling bikin ruwet, saya nemu toko craft super lengkap dan harganya murah. 

 Kain katun dan linen berbagai ukuran. 

Murah di sini jangan disamakan dengan murahnya Jakarta ya. Misalnya: dengan kualitas kain nomor satu, harganya mirip dengan kain kualitas medium di Pasar Baru atau Mayestik. Tapi yang terpenting motif – motif kain Jepang di sana nggak ada duanya dan nggak bisa ditemui di Jakarta. Karena nggak mau gegabah, saya memutuskan tidak membeli apa – apa (dulu) di sana. Hal lain yang saya suka, mereka menjual kain dalam potongan - potongan kecil, misalnya 50x50cm atau 75x75cm. Buat orang yang suka craft menguntungkan banget, nggak harus beli bahan kebanyakan.

Day 5. Fushimi Inari-Taisha. Oranye dan downtown Kyoto! 
Pertama kali “ngeh” kalau kuil ini ada waktu nonton Memoirs of Geisha jaman kuliah dulu. Adegan pertamanya Chiyo kecil berlari di sepanjang pilar – pilar oranye. Sebagai spot wajib kunjung turis, tempat ini juga nggak kalah ramai dari Arashiyama Bamboo Forest. 

 Turun stasiun langsung disambut gerbang oranye. 

Tapi seramai – ramainya tempat wisata di Jepang, segala sesuatu tetap teratur dan nyaman. Fushimi Inari-Taisha didedikasikan untuk dewa beras (God of Rice). Kuil ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan populer di antara pedangang dan pebisnis. Torii atau pilar – pilar oranye merupakan donasi dari para pebisnis sebagai ungkapan syukur kepada sang dewa. Kuil ini terpecah di beberapa lokasi. Salah satunya di atas gunung melewati jalan setapak. 

 Torii.

 Wishing pieces bermuka rubah (kitsune) karena rubah adalah penjaga kuil ini.

Lihat bagaimana orang di sana kreatif dalam menggambar kayu untuk menulis harapan. Sehabis dari Fushimi Inari-Taisha kami pulang ke apartemen untuk istirahat. Agak sore baru kami keluar lagi menuju downtown Kyoto lewat Shijo Street. Kali ini kami naik bis. Santai rasanya naik bis dibandingkan kereta dengan stasiun yang selalu crowded. Downtown Kyoto sungguh menyenangkan. Jalanan panjang, pedestrian zone yang lebar sehingga orang bisa jalan kaki dengan nyaman, kanan kiri pertokoan. Toko – tokonya juga menarik seperti Tokyu Hands dan Flying Tiger. 

 Downtown Kyoto.
  
Tapi sebelum menelusuri downtown Kyoto: sushi time! Karena lagi hamil dan nggak boleh makan yang mentah, moment makan sushi di Kyoto ini jadi syahdu banget buat saya karena sushi di Kyoto berbeda dengan sushi yang biasa dijual di Jakarta (edo-style). Di Kyoto tidak ada yang mentah, walaupun rasanya tetap mentah (eh gimana?!) Kyoto terletak jauh dari laut. Sehingga mereka harus pandai menyimpan ikan yang mereka punya. Salah satunya dengan cara dibuat acar. Jadi meskipun sudah ada proses diberi cuka dan disimpan, rasanya tetap tidak matang. Kyoto-style sushi lebih besar ukurannya dan dimakan tanpa soyu sauce. Rasanya? Juara! Saya makan di Izuju. Tepat berada di pojokan downtown Kyoto. Restaurantnya sendiri sudah dikelola selama tiga generasi atau 100 tahun lebih. 

Kyoto-style sushi. 

Puas makan sushi, kami jalan kaki dan mampir ke Gion, yaitu distrik Geisha yang paling terkenal. Berasa masuk ke mesin waktu deh. Sepanjang jalan bangunan tua dari kayu. Melihat pekerja restaurant naik sepeda pakai baju tradisional sambil memanggul boks kayu berisi ikan dengan satu tangan di pundak. Sayangnya karena temaram, sulit mengambil foto. 


 Gion District.

Sisa hari kami habiskan dengan berjalan kaki menyusuri downtown Kyoto. Masuk ke Tokyu Hands kemudian mupeng berat karena barang – barangnya bagus. Lalu nemu toko Flying Tiger yang ternyata merk dari Denmark. Lucu – lucu dan murah. Kami membeli oleh – oleh buat para keponakan di toko ini. 
 
Day 6. Kyoto. Ramen ayam juara! 
Hari ini kami bermalas – malasan di apartemen. Bangun siang. Suami nyuci baju. Saya leyeh leyeh. Kami baru keluar selepas makan siang dan kembali ke Nishiki Market nyahahaha. Kali ini saya beli beberapa potong kain dan benang rajut. Suami nemu cargo pants dan tas tentara murah yang bagus. Kali ini kami masuk Nishiki market dari sisi pasar yang menjual makanan. Seru abis! Ragam, warna dan jenis makanan di sana sangat instagram-able. Halah.

 Kalau udah sampai Nishiki, jangan lewatkan strolling bagian ini! Sumber foto: www.japanguide.com

Kira - kira begini contoh makanan "lucu" yang dijual. Dare to try?  Sumber foto: eatdrinktravelrepeat.com

Selain itu, selaku fans garis keras koyo Jepang, saya memborong koyo buat oleh – oleh sekaligus buat saya sendiri yang kayaknya cukup untuk persediaan 3 tahun. Dulu saya pernah dibelikan seorang teman koyo dari Jepang dan cocok! Setelah pakai koyo Jepang, saya malas pake koyo yang dijual di Indonesia. Koyo Jepang itu lembut, lengket di kulit tapi tidak sakit ketika ditarik, tidak membuat panas tapi efektif. Untung saya masih ingat warna dan gambar koyo tersebut. Tidak butuh waktu lama buat saya menemukannya di apotek. Sementara suami mau beli obat sakit kepala bingung. Tulisannya huruf kanji semua. Orang Jepang ditanya pake Bahasa Inggris nggak ngerti. 

Belum sah ke Jepang kalau belum makan ramen. Sebenarnya pilihan ramen banyak banget, di pinggir – pinggir jalan juga ada dan ramai (pertanda enak) tapi hampir semua non-halal. Hasil temuan browsing – browsing merekomendasikan kami ke sebuah chicken ramen di daerah Shimogyo-ku. 

 Chicken ramen dan chicken dumpling. Delish

Letaknya di dalam gang. Rasanya superb! Mereka memang hanya menjual ramen ayam. Ramen terenak yang pernah kami makan.

Day 7. Kyoto. Kiyomizu-dera dan Shinkansen. 
Hari terakhir kami di Kyoto sebelum melanjutkan liburan ke Tokyo. Kami mengunjungi salah satu kuil terbesar di Kyoto: Kiyomizu-dera. Karena letaknya yang tinggi, kota Kyoto bisa terlihat dari kuil. Pengunjung hari itu ramai termasuk anak – anak sekolah.

 Kota Kyoto dari atas.

 Berbaris tertib.

Bagian bawah kuil. 

Amazed lihat kayu - kayu penyangga kuil. Bayangkan jaman dulu mereka membuat semua itu tanpa bantuan alat - alat canggih seperti sekarang. Di jalan menuju Kiyomizu-dera, tanpa sengaja kami melewati toko merchandise Ghibli. Pengen kalap tapi bikin miskin dan koper mulai penuh. Akhirnya kami membeli beberapa poster kain dan kartu pos yang mudah dijejalkan di tas. 


 Die hard fans :P

Gerimis turun. Kami tidak berlama – lama di sana. Setelah mengambil foto di kuil, kami naik bis kembali ke apartemen untuk mengambil koper dan tas. Sambil menunggu kereta Shinkansen jurusan Tokyo datang, kami makan siang dulu di Katsukura, Stasiun Kyoto JR. Selama di Kyoto, Katsukura jadi restaurant favorit saya. Kami makan dua kali di dua hari yang berbeda. Menu-nya sederhana: tempura + nasi + miso soup + kol iris. Tapi rasanya enak banget! Nasi (barley rice), miso soup dan kol boleh tambah sesuka hati. Bahkan, suami saya yang biasanya kurang semangat ketemu miso soup, di Katsukura bisa makan 3 mangkok. Kenyang! Senang!

Katsukura! Kapan buka di Jakarta ya? 

Next, Shinkansen! Ke Jepang belum sah (juga) kalau belum naik kereta super cepat ini. Dari Kyoto ke Tokyo hanya memakan waktu 2 jam 40 menit. Jika naik kereta biasa dengan rute yang sama lamanya 9 jam. Walaupun kami menggunakan JR tickets, kami tidak bisa naik Shinkansen yang paling cepat (2 jam 20 menit). JR tickets hanya me-cover Shinkansen di bawah kecepatan itu. Secara fasilitas gerbong, tidak ada yang istimewa dari Shinkansen. Keunggulannya hanya efisien waktu.

MOSHI MOSHI JAPAN! (BAGIAN I)

Waktu kecil hingga remaja saya tergila – gila dengan komik Jepang. Saya rajin membeli komik sampai jumlahnya ratusan dan menumpuk di rumah. Saya ingin mengunjungi Jepang sejak dulu. Sebaliknya, suami saya tidak pernah melirik Jepang sebagai tujuan liburan.

Suatu hari suami (saat itu statusnya masih pacar) iseng mengecek situs Air Asia dan ada promo tiket ke Jepang. Kami sepakat pergi ke sana setelah kawinan. Kami sengaja memilih minggu ke-3 dan ke-4 bulan Mei karena masih masuk musim semi dan harusnya Jepang tidak terlalu padat karena periode cherry blossom atau sakura sudah lewat. Kami membuat itinerary, booking tiket tempat – tempat yang ingin kami datangi, akomodasi (sekalian pengen coba AirBnB) dan tentu saja – JR tickets! Kami terbang dari Jakarta ke Osaka. Pulang melalui Bandara Haneda di Tokyo.

Day 1. Osaka. Sampai!
Kami tiba di Osaka tengah malam. Ternyata anggapan Jepang tidak terlalu padat setelah musim sakura salah! Kami mengantri 1 jam di imigrasi dan baru keluar lewat jam 1 malam. Baru kemudian kami mengetahui bahwa wisata ke Jepang memang tidak ada istilah low season atau high season. Wisata ke Jepang ramai sepanjang tahun.

Kami keluar dari bandara dan antre bis malam menuju Namba, area tempat kami menginap. Kira – kira jam 2 malam kami sampai di Namba. Hujan deras. Semua orang yang turun dari bis mengantre taxi. Saya dan suami celingukan bingung hahaha. Kami diturunkan di pinggir jalan yang bercabang enam. Kami yakin akomodasi kami tidak jauh dari halte, tapi harus ke arah mana atau ambil jalan yang mana. Ditambah lagi hujan deras dan kami tidak memiliki mobile wi fi.

Kami menyebrang jalan dan naik taksi 30 menit kemudian. Tentu saja supir di Jepang tidak berbahasa Inggris. Kami menunjukkan alamat penginapan kami. Dia mengambil buku tebal seperti buku telepon jaman dulu yang ternyata buku peta. Luar biasa konvensional tapi akurat. Dia mencermati buku itu selama 10 menit sebelum mengantar kami. 6 menit kemudian kami sampai tepat di depan apartemen kami, pintu taksi dibuka, tas – tas dia bantu gotong dan dia tidak mau menerima tip (di Jepang memberi tip memang bukan hal yang umum dan pasti mereka tolak). Hampir jam 3 pagi kami masuk ke dalam apartemen mungil namun efisien ruang. Mobile wi fi kami pun sudah sampai di kotak surat dan siap dipakai. Liburan dimulai.

Day 2. Osaka. Aquarium dan Dotonburi.
Jam 09.30 kami keluar dari apartemen. Begitu keluar, kami baru tersadar bahwa apartemen kami persis bersebelahan dengan pasar berupa deretan ruko yang ramai, segala ada, tapi tempatnya bersih dan kering. Banyak bahan makanan dan restaurant. Seru! Kami jalan – jalan mencari restaurant udon yang terkenal tak jauh dari situ. Tapi sebelumnya, foto “sah” dulu dengan mobil berplat Jepang. Foto ini teruntuk teman – teman saya yang punya “kelakuan” sama.

Sah ya :P

Osaka di bulan Mei udaranya sejuk. Menyenangkan sekali berjalan kaki di kota yang rapi, teratur dengan udara super bersih. Paru – paru saya pasti bahagia. Bermodalkan google map, kami masuk ke restaurant yang tadinya kami pikir restaurant udon yang dicari (tampilan pintu depannya mirip). Begitu masuk, kok jualan sushi hahaha. Yasudahlah. Lapar. Saya makan sushi set. Sementara suami hanya nyemil aja. Keluar dari sana, kami berjalan agak ke depan. Selang 15 – 20 meter, restaurant udon-nya ketemu hahaha. Makan lagi donk. Tapi saya memesan makanan yang salah karena tidak ada menu berbahasa inggris. Saya memesan cold udon.

Siang kami menuju Osaka Aquarium (Kaiyukan) yang terletak di Osaka Bay. Dari luar terasa sepi sekali, tapi begitu masuk ke dalam ternyata cukup ramai, terutama pengunjung keluarga. Saat masuk, kami disambut lorong panjang (mirip di Sea World) dimana ikan - ikan hiu berenang.


 Osaka Aquarium tampak depan. Sumber foto: www.kaiyukan.com

Kemudian keluar dari lorong, ruang berubah menjadi semi outdoor. Ada tumbuhan endemik Jepang, beberapa binatang sungai seperti salamander dan berang - berang. “Koleksi” marine species-nya pun bagus – bagus. Kebanyakan manta ray, ubur – ubur, lumba – lumba, hiu dan tentu saja kebanggan mereka: hiu paus. Osaka Aquarium merupakan salah satu aquarium terbesar di dunia. Koleksi species mereka bertema Pacific Rim.

Melihat lumba - lumba bersama ibu. 

Ini dia hiu paus ikon aquarium mereka. Sumber foto: www.kaiyukan.com
                              
 Instalasi yang sangat engaging. Sumber foto: www.govoyagin.com

Puas berkeliling aquarium, saya dan suami duduk – duduk di dekat teluk. Lalu suami bilang, “Aku pengen balik lagi liburan ke Jepang”. Wah, teryata ada yang jatuh hati dengan negara ini, padahal baru hari pertama.
 
Wefie yang direncanakan. 

Agenda kami cukup santai di Osaka karena waktu itu saya sedang hamil, jadi tidak mau memaksakan loncat sana sini. Sebelum kembali ke Namba kami naik Tempozan Ferris Wheel yang letaknya di samping aquarium. Walaupun kaki agak ngeri – ngeri sedap sampai di atas, tapi pemandangannya cantik.

 Pemandangan dari ferris wheel.

Osaka adalah kota ke-dua terbesar setelah Tokyo. Tapi suasananya beda. Osaka lebih tenang dan populasi penduduk tidak terlalu padat. Kami lanjut ke Mitsui Outlet Park alias factory outlet-nya Jepang. Agak nyasar dikit waktu kemari karena turun stasiunnya kecepetan akibat ancer – ancer dari teman kurang jelas. Plus daerahnya sepi banget, kami sempat nggak yakin ada di tempat yang benar. Meskipun celingukan cari – cari, akhirnya kami sampai di sana dan amazed sama barang – barang yang dijual. Bayangin aja, sepatu lari asics yang dulu saya taksir dengan harga 2,2 juta rupiah di Jakarta, di outlet asics cuman 700 ribu. Kami juga happy di outlet Muji. Saya beli celana hamil dan rok plisket seharga 150 ribu. Yang bikin senang bukan hanya harga lebih murah, tapi banyak barang - barang yang tidak masuk ke Indonesia.

Hari sudah gelap sewaktu kami kembali ke tengah kota Osaka. Kami langsung menuju area kehidupan malam yang paling hits se-Osaka: Dotonburi! Nah, di Dontonburi ini baru deh terasa musim liburannya. Semua turis agaknya berpikiran untuk makan malam atau sekedar jalan – jalan di sana. Sepanjang Dotonburi penuh orang dan hingar bingar.


Wajib banget foto si mas - mas yang lagi lari. Sumber foto: www.japan-guide.com

Kira – kira jam 9 malam, kami berjalan kaki balik ke arah apartemen. Kami mampir ke Yoshinoya dulu untuk makan malam (jauh – jauh ke Jepang, tetap ke Yoshinoya). Yoshinoya di Jepang punya menu nasi dengan belut (unagi don) yang enak banget dan harganya cuman sekitar 50 ribu jika dirupiahkan. Sementara unagi don di Jakarta harganya dua kali lipat. Yeay!

Terima kasih Osaka, meskipun singkat tapi kotanya berkesan bagi kami yang hanya numpang tidur dua malam. Mobile wi fi yang kami sewa pun sangat bisa diandalkan, terutama buat upload foto – foto di path nyahahahaha dasar turis Indonesia!

Day3. Kyoto. Stasiun super keren!
Semua barang rapi masuk koper sejak malam sebelumnya. Kami naik kereta ke Kyoto yang tidak terlalu jauh dari Osaka. Kurang lebih hanya dua jam dengan kereta biasa. Seneng banget, saya berasa ada di komik – komik Jepang. Duduk di gerbong kereta yang lengang, orang – orang membaca buku di kereta, anak sekolah dengan seragam kerah kelasi, di luar pohon – pohon dan rumah – rumah teratur, persis kayak neighborhood-nya rumah Nobita di film Doraemon.

Karena kami pakai kereta di JR line, kami berhenti di Stasiun Kyoto JR. Saya benar – benar nggak nyangka stasiun-nya super keren! Sebelum ke Kyoto, stasiun kereta paling keren yang pernah saya datangi itu Berlin Hauptbahnhof. Begitu liat stasiun Kyoto, Berlin langsung lewat!


 Stasiun Kyoto JR. Sumber foto: www.japan-guide.com 

 Tampak atas. Foto ini diambil dari lantai 14.

Cerita sedikit soal Stasiun Kyoto. Selain berfungsi sebagai interchange, stasiun juga memiliki dua mall (The Cube dan Isetan) dan ruang terbuka di lantai atas untuk event. Stasiun ini tingginya 15 lantai! Yes, 15 lantai lengkap dengan taman bambu semi outdoor di lantai tertinggi.


 Taman bambu di atas stasiun. Sumber foto: www.expedia.com

Cuaca Kyoto berawan dan lebih dingin daripada Osaka waktu kami datang. Saya dan suami jalan – jalan ke ruang terbuka bagian atas sambil mendekap jaket rapat – rapat. Kami baru bisa check in di penginapan jam 3 sore (kami menyewa apartemen lewat AirBnB), makanya kami keliling – keliling stasiun dulu. Apartemen yang kami sewa letaknya benar – benar strategis! 10 menit jalan kaki ke Stasiun Kyoto JR, 3 menit jalan kaki ke stasiun kereta non-JR, 2 menit jalan kaki ke halte bis terdekat dan 5 menit jalan kaki ke terminal bus.

 Apartement kami di Kyoto.

Menggunakan railways di Jepang awalnya memang sedikit jelimet, karena line-nya banyak dan dikelola oleh beberapa perusahaan swasta. Masing – masing line punya stasiun yang bisa dilewati atau tidak dilewati sama sekali oleh line yang lain. 

 Kyoto railways map.

Saya dan suami membeli JR tickets untuk 7 hari (seven days pass), karena itu kami ingin memaksimalkan menggunakan transportasi umum milik JR Group (kereta dan bis). Alasan lain karena harga 7 days pass-nya lumayan bikin miskin, jadi harus dipake hehehe. Secara umum transportasi di Jepang mahal! Sebagai gambaran, naik bis sekali jalan (one way) jauh dekat minimal 15 ribu rupiah. 

Note: kami tidak membawa kamera yang oke, hasil foto dari kamera kami sangat sederhana. Oleh karena itu, saya mengambil beberapa foto dari internet sebagai pelengkap tulisan ini. 

Saturday, April 26, 2014

Komodo, the land of dragons and manta ray heaven


I thought I was in Westeros or Middle Earth when I step in on the island that day. But no, I am in real world. Just in the land of dragons. 
Komodo, or known as dragon is the endemic animal in this infamous national park. The name of the island followed. I went there with 8 friends and none of them are my travel buddies before. So this was our first trip together to encounter the beautifulness of earth. We planned this trip since November 2013 and officially went mad on 28 March – 4 April 2014. I even brought my DSLR camera (which I kinda lazy to bring it lately due to its weight). But I don't wanna miss moments or landscapes for this matter.
Here is the map of Indonesia with Komodo spot on it.


 Komodo Island from above

We flew from Jakarta to Labuan Bajo via Denpasar. Stayed over in Denpasar for one night and took earliest flight to Labuan Bajo because we don’t want to leave out our check dive that afternoon. Like any other East Nusa Tenggara cities, Labuan Bajo is simple, no-fuzz city. I feel like time really moves slowly there. I hope it stays like that for many years to come. Peaceful. 
 Labuan Bajo Harbour
We are ready to sail with Embun Laut 

Labuan Bajo was really hot, remind me a bit of Papua. That’s the typical eastern Indonesian weather I guess. After lunchtime, we moved along to our ship, KM Embun Laut, and finally met the fish whisperer Mr. Condo Subagio who is the owner of the ship. We sailed and sailed and sailed passing beautiful small islands on left and right. I would not recognize those islands one by one if I pass them again and I don’t care! Been waiting for this trip for too long. Just want to enjoy this entire careless and free-scenic-world-#eatsleepdive-holiday.


 The scenic view from our boat 


Life is a boat (and then we dive)

Though the original idea of this trip was to live on board and dive 15 times in 5 days, we got so much more than we expected. Here are 10 things that we embraced during our Komodo trip:

1. The underwater sites of Komodo are overall marvelous.

2. We met great species such as black manta, white tip shark, black tip shark, napoleon fish and many more.

3. All sunrise and sunset in Komodo are captivating.
    One sunset on no man's land

     4. Each night, we could see half milky way and almost all constellations in the sky. And that God must be real! (too bad I don’t bring my tripod to capture the sky with my camera).

     5. We met Komodo dragons on their habitat (being working in conservation organization made this point my achievement).


      A little trekking wont hurt! (location: Rinca Island)


    Komodo dragons, the native population


 
    View from the top of Rinca Island

    6. We did trekking in no man’s land and I saw the most beautiful sunset in my life. 

     Another trekking with real sweats!


    We're on the top

     Looking for best spots

   7. We ate 5 times a day. No kidding on this one. I gained two kilos afterwards.

   8. Apparently we are good traveling group, both underwater and on the surface.


    After one of those wonderful dives 

    9. We went sun bathing on Mawan beach alone. Live truly like snob tourists that don’t want to share space with others. Only at that time, no other human beings are around.


    Space of our own
     
     10. We went to Batu Cermin cave in Labuan Bajo that is believed to be located underwater hundreds of years ago.

Five days of adventure were fast gone, of course. We didn’t want to go home, just stay there and have #eatsleepdive life as long as we want. If only Komodo is Narnia and we can go there through wardrobe cupboard anytime we want.


 Our last night in Komodo

We flew back to Denpasar and stayed for two nights, tried to put ourselves together, moved pieces by pieces so we know when we were ready to comeback to Jakarta. Three weeks passed since the holiday and still, we were in wanderlust.
Back to Jakarta, I sent black manta ray postcard to my niece and nephew. Shared a piece of adventure perspective and dazzling underwater view to them. I hope they can have their own adventure some day. I even hope to go back to Komodo someday and have some wicked time again!

Thursday, April 17, 2014

as you slept


I sat near you
right on your bed
listened to your snore, smelled your scent
how i missed you
how i lost you for quiet long time
how i wanted the time to stop
and wished one single day was 48 hours
frogs were outside, sang a summer song
too late!
its winter already!
your warm hand gone cold
cats were frozen
snakes slithered in the mid night
they waited
waited
waited!
i cried
busted!
tears gone sour
love gone bitter
as you slept
as you slept
as you slept!

(24 November 2006)

bisu


ingin kuraup jiwamu
kupintal bersama waktu
biar malam tak menggerutu

besok berbeda
tergulung kita
di samudra mati rasa

bisu
memeluk rindu

(8 April 2008)


jika jarak bisa digulung


Jika jarak bisa digulung seperti senar layang-layang
kutarik kau biar kering sudah darah itu terbawa burung jalak 
entah kemana mungkin ke penantian sudut mimpi.

Mana memar yang lukai hatimu.

Di sini jantungku sesak menghitung helai rambut sang malam serta bintang di sapuan angkasa.

Ini mimpi episode sembilan sembari menyulam regangan waktu berserakan 
bersama kepiting penenung yang berjalan gontai ke arah pantai.

Kuselipkan napas di kantung waktumu seraya memandangi 
jarum berdetak menguap pagi pergi.

Bentangkan jadi selimut malam bersulur biru dimana engkau terpejam
dalam hitam.

Kita belum bisa berkata
belum sekarang atau mungkin tidak akan.

Jika jarak bisa digulung akan kutarik kau dari hutan pinus yang
sesatkan arti jelaga.

Kukeringkan danau agar engkau tak lagi wajib bercermin 
dan kura-kura enggan menyapihmu dalam dahaga. 

Kubebaskan dirimu tanpa kata-kata tanpa ajian membelah bianglala.

Hanya pelukan dari jemari berpeluh yang rindu airmatamu dan kamu 
serta kata maaf yang dulu diajarkan orangtua kita tanpa lekukan ombak seperti salah satu lukisan hitam-putihmu.

Begitu sederhana, begitu saja. 

(19 November 2008)